Showing posts with label Touring Bike. Show all posts
Showing posts with label Touring Bike. Show all posts

Sunday, July 17, 2016

Now! Sporting Dirtdrop Handlebar

After debating (in my head) which dropbar to replace the riser bar on my Schwinn Crosscut. Which one? The Randonneur dropbar (Sakae) or Mountain dirtdrop (WTB)? 
The decision was made when I got in my hand a dirtdrop style quill stem (Rito branded) and Sun Tour Command 7sp shifter. 

Cha..cha..cha.. change!

The problem was how to get the WTB bar into the quill stem, after that the rest was easy. And now it's complete. And now almost all my bikes sporting dropbars, bar my all mountain bike (my '99 Intense Uzzi SL) and it's the only alumunium bike in my stables while the rest of them is steel.

You Complete Me

The Sun Tour Command 7sp shifter is compatible with Shimano 400 LX derailleurs with HG 41 cassette and narrow chain. Although I must get used to it, but right now the bike fits me well with this setup.

Wednesday, March 23, 2016

My Bike Hacks

Not everything is easy and installed instantly, sometimes you have to tinkering about it and to find the solutions about the problem that happen on your bike(s).
But the results worth it more than not.


This is when my now scarce 28,6 top pull fd broke, wasnt easy to find the replacement.

The pump peg

Light holder on the front rack without interventions

Front rack attachment

Extra water bottle holder

Fender attachment

Saddle bag from mag powder bag for wall climbing

Front rack and lamp holder on the fork

Extra water bottle holder


Tuesday, March 22, 2016

100km?

Gagalnya acara Jakarta Popular Audax 100km (28/2/2016) dikarenakan cuaca buruk tidak membuat kita surut dan kembali rumah masing2. Kami bikin acara versi kami sendiri, walaupun memakan waktu yang jauh lebih lama dari yang diharuskan, hehe.. (10 jam!). Tapi memang jauh lebih menyenangkan bila bersama teman.

Menunggu start yang tidak pernah dimulai

Bikin start sendiri

First stop

Share the road

Mampir gak ya?

Menara Miring Sunda Kelapa

Peninggalan VOC

Bukan halangan

Yang penting senang


100km kemudian
Minggu berikutnya (6/3/2016) keempat teman saya tidak ada yang ikut acara Jakarta Popular Audax 100km yang diundur. Walaupun saya finish tepat waktu, terasa kurang menyenangkan seperti saat ini...







Happiness is a Tailwind

arfrhmn.blogspot.co.id
Trip to Pantai Sawarna, Jawa Barat

arfrhmn.blogspot.co.id
Trip to Pantai Sawarna, Jawa Barat

arfrhmn.blogspot.co.id
Trip to Pantai Sawarna, Jawa Barat



Four (Iron)Horsemen Ride

Menikmati Kota Tua dan Hutan Bakau Jakarta bersama Teman (21/02/2016)

Fatahillah Museum Plaza

Fatahillah Museum Plaza

Pos Kota

Jembatan Hutan Bakau

Bridge Over (Un)Troubled Water

Bridge No More

Calmed Down

Bergaya senatural mungkin

Bersama penjaga hutan

Istirahat makan

Tunggangan dan tuannya

Sejuk

Parkir Gratis

Enter at your own risk

Exit with relieve

Checking Out the Scene Like a Boss

Coffee Minority

Under the bridge downtown

Wednesday, February 24, 2016

Now She Has Dropbar!

@arfrhmn

Menyesuaikan kokpitnya yang sekarang menggunakan Nitto Randonneur dropbar dan Nitto Technomic quillstem, shifter dan brake levernya kini menggunakan Dura Ace SL-BS77 dan Dura Ace BL-7402.
Berikut link katalog dari sheldownbrown.com. Cek hal 18 untuk MB4.
Untuk frame geometry yg saya dapat dari http://yojimg.net



Tuesday, December 3, 2013

My (New but Old) Touring Bike


My Touring Bike


1992 Bridgestone MB4


This is my touring (sometimes commuting) bike. I got it from a friend who felt that it was too big for him. I got it all stocks (Shimano, Dia Compe, Sugino, Ritchey) except for the tires. Although the condition is far from mint and there's significant wear on the frame, the components are all working perfectly. The grouppos are 7 speed Shimano LX (I switched the Dia Compe cantis with Shimano LX one), Sugino GP (46T-24T) crankset (originally) that I switched (temporarily) with Exage LX-400 (48T-26T).

I had a touring bike before, it's a converted mountain bike, an old Specialized RockHopper. I've kitted it out with dropbar (Nitto Randonneur), Shimano bar end shifter and Paselas. Also with Shimano LX dynamo hub and Busch & Muller lights. Though it's a nice bike, but deeply down inside I want a touring bike with more traditional/conventional look, that is a bike with level top tube, diamond frame, not a sloping one. And the lower bottom bracket height on this new bike is a bonus.

As my daughter growing up, she needs a bike that more fit and suitable. So I passed it to her, with some components changes to fit her of course. Glad she loves it, she's a very happy girl.

With the touring kits took out from my old bike, I build and convert this Bridgestone MB4 to be my next touring bike. At first I used my Randonneur drop bar, but now it sporting a trekking bar with M900-ST shifter/brake lever. But I think I want to put on my Randonneur drop bar back again, because I love the position and the feel much better.

The front rack is an Old Man Mountain Ultimate Low Rider. It can be used for bike with disc brake and fork without mid eyelets, as long as it has canti's post. It has two positions for front pannier, higher and lower. The rear rack is Topeak Super Tourist DX. It's also has two panniers positions and compatible for bike with disc brake too.

The fenders are Planet Bike's, and I can't ride without them, it's a must accessories in wet season. For a little security I added Abus Frame Lock with cable accessories too. Busch & Muller front and rear lights are really handy whenever I go nite ride or commuting late, and they don't even need battery. I also added few more accessories to make my riding more comfortable, safer and enjoyable.

At a glance, it looks just like Surly bike that I always want but just can't justified for the price. So I guess I call it a poor man's Surly Long Haul Trucker (I wish, ha ha!). I hope that I can enjoy many more miles with this bike, doing what i love to do: Ride.

For them who need advice on bulding touring bike without breaking the bank, just look for an old mountain bike (early '90 ish). Look for the one that has eyelets for racks, long (relatively) chainstay and relax geometry. It's out there somewhere.

P.S. I named her 'Lovely Rita' after my favorite band's song.



Monday, January 31, 2011

Solo Touring: Bandar Lampung - Jakarta, Desember 2010.

Saya ingin berbagi cerita tentang perjalanan bersepeda saya akhir tahun lalu, dari Bandar Lampung menuju Jakarta (30 Des - 31 Des 2010).

Awalnya perjalanan ini dipicu dari kedatangan teman saya Hendra dari Jakarta dgn sepedanya, tidak secara sengaja diniatkan. Rencana semula adalah melakukan perjalanan bareng dari Bandar Lampung menuju Teluk Kiluan, namun rencana berubah setelah si Hendra terkendala oleh waktu karena tiba-tiba harus kembali ke Jakarta karena masalah pekerjaan.

Setelah hanya melakukan biketrip yg dekat-dekat saja di sekeliling Bandar Lampung sang teman akhirnya harus kembali, sementara sepeda dan barang2 yang sudah disiapkan musti dirapikan kembali. Entah kenapa rasanya malas sekali melakukannya dan si 'Michelle' (Specialized Rockhopper jadulku) terlihat memohon untuk diajak jalan-jalan sesuai yg direncanakan.

Setelah dua malam berpikir akhirnya diputuskan utk melakukan trip ke Jakarta sambil sekalian menjemput anak-anak yg berlibur di rumah Eyangnya. Setelah izin keluar, besok paginya dimulai perjalanan ini.


Menuju pantai Padang Cermin

Santai di pantai

Menikmati suasana sambil melepas penat dan stress

Kembali ke Bandar Lampung

Perjalanan dimulai pukul 5:30 pagi, setelah sarapan dan persiapan minor seperti menyalakan lampu dinamo dan memakai reflektor vest dan recheck bawaan, dimulailah perjalanan. Udara masih segar dan cuaca terlihat agak mendung. Tidak ada yg berarti karena sudah sering melewati jalur ini, tantangan pertama yg ada yaitu tanjakan Tarahan yg masih menanti di depan, lebih baik simpan tenaga sebaik mungkin.

Sampai di Tarahan terlihat tanjakan itu, walau sudah berulang kali melewatinya tetap saja melihatnya membuat hati ciut, di mulut tanjakan mulai berasa elevasinya, membawa beban yg jauh lebih berat dan perjalanan yg masih jauh membuat pilihan untuk memakai low gear dari awal tanjakan. 

Cuaca yang mendung tak membuat penaklukan tanjakan jadi lebih mudah, tanjakan yang sudah pernah dilewati dalam sekali lewat kali ini membuat saya harus beristirahat sebentar di tengah.

Tanjakan Tarahan

Selepas tanjakan Tarahan, saya beristirahat sejenak di puncak tanjakan ke-2 sambil rehidrasi dan ngobrol dengan tukang ojek di pangkalannya. Terasa lega karena tantangan pertama sudah dapat dilalui dengan baik. Perjalanan berikutnya terasa lebih mudah karena jalanan menurun dan lebih landai.
Pemberhentian berikutnya: Kota Kalianda.
Memasuki Kalianda


Memasuki kota Kalianda penat mulai menyerang, diputuskan untuk beristirahat. Sambil mencari tempat di sepanjang perjalanan tidak ada yg cocok, sampai akhirnya keluar dari kota dan menemukan gubuk di pinggir jalan menghadap ke Gunung Rajabasa dan dengan pemandangan di belakang yg menyejukkan mata.
Sambil beristirahat cukup lama, saya mengembalikan energi dengan mengisi perut dan rehidrasi.

Pemandangan di belakang gubuk

Lanjut perjalanan, walau sudah istirahat agak lama namun penat yang tadi mulai hilang kembali lagi saat beberapa lama menggowes. Keinginan untuk istirahat kembali menguat, namun diputuskan untuk beristirahat nanti saja di restoran yang cukup besar di depan sambil isoma.

Jam 11.00, setelah menggowes beberapa lama, terlihat dari jauh sebuah restoran padang yang cukup besar yang merupakan pemberhentian berikutnya, semangat yang mulai mengendor kembali menguat dan perut yang kosong berteriak kegirangan.

Bersih2 dulu sebelum makan, hidangan ayam pop dan segelas jus melon yang segar cukup menaklukan perut yg bergejolak karena lapar. Setelah kenyang rasa kantuk mulai menyerang, untuk melepas lelah dan mengembalikan energi sambil menunggu adzan lebih baik tiduran dulu, karena sehabis ini jalur yang dihadapi yaitu tanjakan yang panjang sampai pelabuhan Bakauheni.

Setelah dirasa cukup beristirahat dan melaksanakan kewajiban, dengan energi yang dirasa sudah mulai kembali walau tidak sepenuh saat awal keberangkatan, perjalanan dilanjutkan kembali.
Perjalanan dimulai dengan tanjakan yang panjang dan konsisten, walau tidak terlalu terjal tapi cukup menguji kesabaran. Ada naik pasti ada turun, turunan panjang sudah menanti untuk disambut tanjakan lagi. Melewati jembatan longsor yang hampir selesai diperbaiki (sudah waktunya!) menandakan tanjakan terakhir untuk sampai ke pelabuhan telah tiba. Hampir tiba dipuncak mampir dulu ke mini market untuk refill air dan makanan selama di kapal nanti.

Di puncak tanjakan terakhir terlihat pelabuhan Bakauheni dengan airnya yg tampak kehijauan dikelilingi perbukitan yang hijau, terlihat kapal-kapal berangkat dan berlabuh, dalam hati bersorak kegirangan, fase 1 telah selesai.

Pelabuhan Bakauheni

Jalan ke pelabuhan, di jalan masih terlihat kantong parkir truk-truk yang mengantri menunggu giliran untuk menyeberang. Sampai di pelabuhan, saya bertanya pada petugas apakah bisa naik kapal cepat? Si petugas nampaknya kurang mengetahuinya jadi saya langsung menuju tempat pembelian tiket untuk penumpang yang ingin naik kapal cepat. Namun ternyata saat itu kapal cepat tidak beroperasi karena cuaca yg tidak mendukung, jadi sepertinya harus naik kapal roro biasa yg makan waktu cukup lama (sampai 4 jam) untuk hanya menyeberang sejauh kurang lebih 30km.

Saya pun kembali ke gerbang pembelian tiket untuk kendaraan, di sana terpampang harga tiket untuk sepeda yang menjawab pertanyaan saya, Rp. 20.000. Dengan percaya diri saya siapkan lembaran uang Rp. 20.000 sambil mengantri sampai giliran saya, yang ternyata setelah di depan petugasnya bilang: "Wah kalau tiket untuk sepeda nggak ada dik". "Lho, di situ ada tulisannya pak" balas saya. "Iya, tapi kita nggak didrop untuk tiketnya" jawab si petugas. Sambil bingung dan melihat kebelakang antrian mulai panjang, saya putuskan daripada berpanjang lebar berurusan dengan petugas saya putuskan untuk ambil tiket motor saja, saya bayar Rp. 32.500 dan tiket plastik itu pun berpindah ke tangan saya.

Antrian di gerbang pembelian tiket

Sampai di kapal ternyata saya termasuk kendaraan terakhir yg masuk ke kapal sesaat sebelum kapal berlayar, tidak terbayang kalau saya harus berurusan dengan petugas tiket tadi mungkin harus menunggu lebih lama di kapal yang berikutnya agar bisa menyeberang ke Merak (ada sisi positif dari setiap permasalahan).

On board bike park

Tidak banyak yg dilakukan di kapal, setelah sejenak ngobrol-ngobrol dengan penumpang yang parkir di sebelah sepeda, saya menuju kabin mencari tempat yang dingin untuk beristirahat. Walau ternyata tempat penuh dan berisik (karena musim liburan) tidak terlalu sulit buat saya untuk beristirahat (capek!!).

Terminal Merak

Kurang lebih tiga setengah jam kemudian sampai lah saya di pelabuhan Merak, fase ke-2 dimulai di tanah Jawa ini. Awal perjalanan di mulai dgn antriaan padat untuk keluar dari pelabuhan, bahkan sepedapun harus berhenti karena tidak ada jalan lagi untuk lewat. Asap kendaraan mulai terasa pekat, berbeda saat masih dlm perjalanan di tanah Sumatera.

Rencana pemberhentian berikut di kota Cilegon untuk bermalam. Sepanjang perjalanan di temani oleh bus-bus besar dan angkot yang berhenti sembarangan serta debu dan asap dari berbagai sumber membuat perjalanan terasa kurang nyaman. Saya pikir inilah pulau Jawa, jadi harap maklum. Ini belum seberapa, nanti sampai di Jakarta akan ketemu yang lebih parah dari ini.

Sampai di Cilegon ternyata belum terlalu malam, sempat mampir dahulu ke toko sepeda untuk mengecek apakah ada barang yang menarik lalu meneruskan perjalanan sampai Maghrib tiba. Setelah melaksanakan kewajiban sejenak di masjid dengan tempat buang air kecil yang unik (tanpa toilet, harus jongkok di tempat seperti tempat wudhu dan tanpa sekat) perjalanan kembali dilanjutkan.

Dengan memakai lampu dinamo cukup membantu dalam perjalanan yg mulai gelap dan membantu terlihat oleh kendaraan dari depan dan belakang sehingga keselamatan lebih terjamin. Sampai kota Serang perut mulai bernyanyi, udara dingin waktu gelap membuat berpikir sepertinya makanan yang hangat akan terasa enak di mulut dan di perut.

Warung demi warung pinggir jalan dilewati tanpa ada rasa tertarik, sampai akhirnya saat mendekati kota Serang terlihat sebuah warung bubur ayam, langsung dropbar di belokkan secara otomatis untuk parkir di samping warung tersebut. Dua mangkok bubur panas + lima sate + tiga gelas teh tawar hangat = kenyang dan senang.

Setelah menanyakan kepada si tukang bubur berapa jauh lagi sampai kota Serang, yang ternyata tidak terlalu lama lagi, perjalanan dilanjutkan. Perut kenyang dan hangat kantuk pun menyerang, sampai di kota Serang pukul 20.00 didapatkan penginapan untuk bermalam. Setelah bersih2 dan menjemur pakaian gowes seharian tadi, istirahat panjang dimulai, tidur. Fase 2 selesai.

Pagi berikut pukul 5.30, selesai sholat dan mandi, saya check out dari penginapan dan memulai fase ke-3 perjalanan. Sambil sarapan roti dan snack yang masih sisa dibeli kemarin siang di atas sadel saya menembus dinginnya pagi di kota Serang. Hari terakhir di tahun 2010 tidak membuat para pekerja meliburkan diri, terlihat dari banyaknya pekerja baik buruh (kebanyakan) atau pegawai kantor yang menunggu angkutan untuk menuju tempat kerjanya.

Di setiap menjelang tempat keramaian seperti pasar, pabrik dan terminal kepadatan luar biasa terjadi, sepeda motor menguasai jalanan, jangankan pesepeda pejalan kaki pun kesulitan untuk berjalan.
Sampai di akhir dari Kabupaten Serang perut mulai tak bisa diajak kompromi, warung nasi uduk di pinggir jalan menjadi penyelamat. Dua piring nasi uduk plus lauknya tak bersisa.
Habis sarapan lanjut dan tak lama perbatasan antara Kab. Serang dan Kab. Tangerang pun terlihat.

Perbatasan Kab. Serang dan Kab. Tangerang

Di sepanjang perjalanan hampir tak ada pemandangan yang indah untuk dilihat, kebanyakan pabrik, pasar, macet. Bangunan terlihat lebih rapat, tanah pertanian terlihat semakin lama semakin jarang memasuki Jakarta.
Saat memasuki kota Tangerang saya bertemu dengan seorang komuter pesepeda (dengan sepeda balap jadul) yg usianya sudah tampak lanjut, sambil mengobrol dalam hati saya salut bapak ini setiap hari bersepeda dgn jarak cukup jauh, terlihat tubuhnya walaupun kurus tampak sehat.

Cuaca mendung yang sepagian tadi menemani, mulai berubah menjadi terik saat keluar dari kota Tangerang, badan terasa merinding yg dikarenakan kurangnya cairan karena dehidrasi. Peringatan untuk memperhatikan asupan cairan dan energi.

Sampai juga di Jakarta melalui gerbang Grogol, berhenti sejenak karena melihat tukang minuman dingin di terik matahari, pastinya segar minum yang dingin-dingin nih.
Sambil minum melihat lengan baju yg dipakai gowes, terlihat debu yang menumpuk, tidak pernah di Bandar Lampung gowes sampai debu menumpuk seperti ini.

Sampai di pusat perkantoran Roxy mas tdk lupa mampir ke toko sepeda yang ada, ternyata cuma satu yang buka. kali ini dua bidon dan satu saddle bag berpindah tangan, masuk dalam pannier saya.
Melewati Monumen Nasional kesempatan untuk beristirahat sambil mengambil foto, saat melihat banyak bangku beton berjejer di sepanjang jalan di naungi pohon rindang.

Tidak lama saat buka snack dan minuman sambil melihat rusa yang ada di balik pagar datang sseorang petugas memberitahukan bahwa saya tidak boleh berisitirahat di tempat itu. Saya bertanya "Jadi bangku-bangku sepanjang jalan ini untuk apa pak?". Jawab si petugas "Saya hanya di tugaskan seperti itu pak, memberitahukan bahwa tidak boleh ada yang beristirahat di tempat ini, karena bisa dilihat dari seberang" (saya berpendapat itu kantor Gubernur).

Rusa di Monas, Jakarta

Okelah kalau begitu pikir saya dalam hati, enggan berurusan panjang tentang hal-hal yang sepele seperti ini, walaupun bingung dengan peraturan yang aneh karena tidak masuk akal, apalagi dibangun bukan dengan uang pribadi dari penguasa. Saya lanjutkan perjalanan pulang ke rumah, kangen bertemu anak-anak.
Girls, I'm home...

1991 Specialized Rockhopper Sport