Bersih2 dulu sebelum makan, hidangan ayam pop dan segelas jus melon yang segar cukup menaklukan perut yg bergejolak karena lapar. Setelah kenyang rasa kantuk mulai menyerang, untuk melepas lelah dan mengembalikan energi sambil menunggu adzan lebih baik tiduran dulu, karena sehabis ini jalur yang dihadapi yaitu tanjakan yang panjang sampai pelabuhan Bakauheni.
Setelah dirasa cukup beristirahat dan melaksanakan kewajiban, dengan energi yang dirasa sudah mulai kembali walau tidak sepenuh saat awal keberangkatan, perjalanan dilanjutkan kembali.
Perjalanan dimulai dengan tanjakan yang panjang dan konsisten, walau tidak terlalu terjal tapi cukup menguji kesabaran. Ada naik pasti ada turun, turunan panjang sudah menanti untuk disambut tanjakan lagi. Melewati jembatan longsor yang hampir selesai diperbaiki (sudah waktunya!) menandakan tanjakan terakhir untuk sampai ke pelabuhan telah tiba. Hampir tiba dipuncak mampir dulu ke mini market untuk refill air dan makanan selama di kapal nanti.
Di puncak tanjakan terakhir terlihat pelabuhan Bakauheni dengan airnya yg tampak kehijauan dikelilingi perbukitan yang hijau, terlihat kapal-kapal berangkat dan berlabuh, dalam hati bersorak kegirangan, fase 1 telah selesai.
 |
| Pelabuhan Bakauheni |
Jalan ke pelabuhan, di jalan masih terlihat kantong parkir truk-truk yang mengantri menunggu giliran untuk menyeberang. Sampai di pelabuhan, saya bertanya pada petugas apakah bisa naik kapal cepat? Si petugas nampaknya kurang mengetahuinya jadi saya langsung menuju tempat pembelian tiket untuk penumpang yang ingin naik kapal cepat. Namun ternyata saat itu kapal cepat tidak beroperasi karena cuaca yg tidak mendukung, jadi sepertinya harus naik kapal roro biasa yg makan waktu cukup lama (sampai 4 jam) untuk hanya menyeberang sejauh kurang lebih 30km.
Saya pun kembali ke gerbang pembelian tiket untuk kendaraan, di sana terpampang harga tiket untuk sepeda yang menjawab pertanyaan saya, Rp. 20.000. Dengan percaya diri saya siapkan lembaran uang Rp. 20.000 sambil mengantri sampai giliran saya, yang ternyata setelah di depan petugasnya bilang: "Wah kalau tiket untuk sepeda nggak ada dik". "Lho, di situ ada tulisannya pak" balas saya. "Iya, tapi kita nggak didrop untuk tiketnya" jawab si petugas. Sambil bingung dan melihat kebelakang antrian mulai panjang, saya putuskan daripada berpanjang lebar berurusan dengan petugas saya putuskan untuk ambil tiket motor saja, saya bayar Rp. 32.500 dan tiket plastik itu pun berpindah ke tangan saya.
 |
| Antrian di gerbang pembelian tiket |
Sampai di kapal ternyata saya termasuk kendaraan terakhir yg masuk ke kapal sesaat sebelum kapal berlayar, tidak terbayang kalau saya harus berurusan dengan petugas tiket tadi mungkin harus menunggu lebih lama di kapal yang berikutnya agar bisa menyeberang ke Merak (ada sisi positif dari setiap permasalahan).
 |
| On board bike park |
Tidak banyak yg dilakukan di kapal, setelah sejenak ngobrol-ngobrol dengan penumpang yang parkir di sebelah sepeda, saya menuju kabin mencari tempat yang dingin untuk beristirahat. Walau ternyata tempat penuh dan berisik (karena musim liburan) tidak terlalu sulit buat saya untuk beristirahat (capek!!).
 |
| Terminal Merak |
Kurang lebih tiga setengah jam kemudian sampai lah saya di pelabuhan Merak, fase ke-2 dimulai di tanah Jawa ini. Awal perjalanan di mulai dgn antriaan padat untuk keluar dari pelabuhan, bahkan sepedapun harus berhenti karena tidak ada jalan lagi untuk lewat. Asap kendaraan mulai terasa pekat, berbeda saat masih dlm perjalanan di tanah Sumatera.
Rencana pemberhentian berikut di kota Cilegon untuk bermalam. Sepanjang perjalanan di temani oleh bus-bus besar dan angkot yang berhenti sembarangan serta debu dan asap dari berbagai sumber membuat perjalanan terasa kurang nyaman. Saya pikir inilah pulau Jawa, jadi harap maklum. Ini belum seberapa, nanti sampai di Jakarta akan ketemu yang lebih parah dari ini.
Sampai di Cilegon ternyata belum terlalu malam, sempat mampir dahulu ke toko sepeda untuk mengecek apakah ada barang yang menarik lalu meneruskan perjalanan sampai Maghrib tiba. Setelah melaksanakan kewajiban sejenak di masjid dengan tempat buang air kecil yang unik (tanpa toilet, harus jongkok di tempat seperti tempat wudhu dan tanpa sekat) perjalanan kembali dilanjutkan.
Dengan memakai lampu dinamo cukup membantu dalam perjalanan yg mulai gelap dan membantu terlihat oleh kendaraan dari depan dan belakang sehingga keselamatan lebih terjamin. Sampai kota Serang perut mulai bernyanyi, udara dingin waktu gelap membuat berpikir sepertinya makanan yang hangat akan terasa enak di mulut dan di perut.
Warung demi warung pinggir jalan dilewati tanpa ada rasa tertarik, sampai akhirnya saat mendekati kota Serang terlihat sebuah warung bubur ayam, langsung dropbar di belokkan secara otomatis untuk parkir di samping warung tersebut. Dua mangkok bubur panas + lima sate + tiga gelas teh tawar hangat = kenyang dan senang.
Setelah menanyakan kepada si tukang bubur berapa jauh lagi sampai kota Serang, yang ternyata tidak terlalu lama lagi, perjalanan dilanjutkan. Perut kenyang dan hangat kantuk pun menyerang, sampai di kota Serang pukul 20.00 didapatkan penginapan untuk bermalam. Setelah bersih2 dan menjemur pakaian gowes seharian tadi, istirahat panjang dimulai, tidur. Fase 2 selesai.
Pagi berikut pukul 5.30, selesai sholat dan mandi, saya check out dari penginapan dan memulai fase ke-3 perjalanan. Sambil sarapan roti dan snack yang masih sisa dibeli kemarin siang di atas sadel saya menembus dinginnya pagi di kota Serang. Hari terakhir di tahun 2010 tidak membuat para pekerja meliburkan diri, terlihat dari banyaknya pekerja baik buruh (kebanyakan) atau pegawai kantor yang menunggu angkutan untuk menuju tempat kerjanya.
Di setiap menjelang tempat keramaian seperti pasar, pabrik dan terminal kepadatan luar biasa terjadi, sepeda motor menguasai jalanan, jangankan pesepeda pejalan kaki pun kesulitan untuk berjalan.
Sampai di akhir dari Kabupaten Serang perut mulai tak bisa diajak kompromi, warung nasi uduk di pinggir jalan menjadi penyelamat. Dua piring nasi uduk plus lauknya tak bersisa.
Habis sarapan lanjut dan tak lama perbatasan antara Kab. Serang dan Kab. Tangerang pun terlihat.
 |
| Perbatasan Kab. Serang dan Kab. Tangerang |
Di sepanjang perjalanan hampir tak ada pemandangan yang indah untuk dilihat, kebanyakan pabrik, pasar, macet. Bangunan terlihat lebih rapat, tanah pertanian terlihat semakin lama semakin jarang memasuki Jakarta.
Saat memasuki kota Tangerang saya bertemu dengan seorang komuter pesepeda (dengan sepeda balap jadul) yg usianya sudah tampak lanjut, sambil mengobrol dalam hati saya salut bapak ini setiap hari bersepeda dgn jarak cukup jauh, terlihat tubuhnya walaupun kurus tampak sehat.
Cuaca mendung yang sepagian tadi menemani, mulai berubah menjadi terik saat keluar dari kota Tangerang, badan terasa merinding yg dikarenakan kurangnya cairan karena dehidrasi. Peringatan untuk memperhatikan asupan cairan dan energi.
Sampai juga di Jakarta melalui gerbang Grogol, berhenti sejenak karena melihat tukang minuman dingin di terik matahari, pastinya segar minum yang dingin-dingin nih.
Sambil minum melihat lengan baju yg dipakai gowes, terlihat debu yang menumpuk, tidak pernah di Bandar Lampung gowes sampai debu menumpuk seperti ini.
Sampai di pusat perkantoran Roxy mas tdk lupa mampir ke toko sepeda yang ada, ternyata cuma satu yang buka. kali ini dua bidon dan satu saddle bag berpindah tangan, masuk dalam pannier saya.
Melewati Monumen Nasional kesempatan untuk beristirahat sambil mengambil foto, saat melihat banyak bangku beton berjejer di sepanjang jalan di naungi pohon rindang.
Tidak lama saat buka snack dan minuman sambil melihat rusa yang ada di balik pagar datang sseorang petugas memberitahukan bahwa saya tidak boleh berisitirahat di tempat itu. Saya bertanya "Jadi bangku-bangku sepanjang jalan ini untuk apa pak?". Jawab si petugas "Saya hanya di tugaskan seperti itu pak, memberitahukan bahwa tidak boleh ada yang beristirahat di tempat ini, karena bisa dilihat dari seberang" (saya berpendapat itu kantor Gubernur).
 |
| Rusa di Monas, Jakarta |
Okelah kalau begitu pikir saya dalam hati, enggan berurusan panjang tentang hal-hal yang sepele seperti ini, walaupun bingung dengan peraturan yang aneh karena tidak masuk akal, apalagi dibangun bukan dengan uang pribadi dari penguasa. Saya lanjutkan perjalanan pulang ke rumah, kangen bertemu anak-anak.
Girls, I'm home...
 |
| 1991 Specialized Rockhopper Sport |